Nabi Melihat Jibril

Nabi Melihat Jibril

Disediakan oleh:

Mohd Riduan b Khairi,

PPY Borneo, Kota Kinabalu Sabah

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menerima wahyu melalui perantara malaikat Jibril Alaihissalam. Seringkali Jibril menyerupai sebagai seorang lelaki ketika bertemu Nabi. Antaranya seperti dalam hadis Jibril yang diriwayatkan oleh Umar al Khattab sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dalam Arbainnya.

Malaikat menyerupai Lelaki

Demikian juga al Qur’an merakamkan kisah-kisah malaikat menemui para Nabi dalam keadaan manusia dan seorang lelaki. Dari kisah Nabi Ibrahim, Nabi Musa sehingga Jibril diutus menemui Maryam memberi khabar akan kelahiran Nabi Isa juga dalam bentuk seorang lelaki.

Firman Allah maksudnya, “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan?” (surah Adz-Dzariat, 24) 

Demikian juga ketika malaikat maut hadir ingin mencabut nyawa Nabi Musa dalam rupa seorang lelaki. Abu Hurairah yang meriwayatkan,

“Malaikat maut datang menemui Musa (‘a.s), dia berkata kepadanya:  Sahutlah seruan Tuhanmu. Katanya: Maka Musa  menumbuk  mata (‘ain) malaikat maut sehingga terkeluar biji matanya. Malaikat maut kembali kepada Tuhan dan berkata: Sesungguhnya Engkau (Tuhan) mengutuskanku kepada hamba-Mu yang tidak mahu mati maka dia telah menumbuk sehingga terkeluar mataku. Katanya: Allah lalu memulihkan matanya semula dan berfirman: Pergilah kembali  kepada hamba-Ku dan katakanlah:  Kalau  engkau mahu  terus hidup, cekupkanlah tanganmu di belakang badan lembu. Sebanyak  mana  bulu  yang engkau genggam  dengan tanganmu  itu, sebanyak itulah bilangan tahun umurmu dilanjutkan.” (riwayat al Bukhari & Muslim) 

Jibril dalam Bentuk Asli

Disebutkan Nabi Muhammmad shallallahu ‘alaihi wasallam melihat malaikat Jibril 2 kali dalam bentuk aslinya, pertama ketika pertama kali menerima wahyu dan ketika di Sidratul Muntaha ketika Isra’ Mikraj.

Firman Allah maksudnya,

“Yang mengajarkan (Nabi Muhammad) oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai akal yang cergas, lalu (Jibril itu) menampakkan dirinya dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.

Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?

Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.

Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.(An Najm: 5-18)

Dalam hadis Nabi menjelaskan lagi,

Abu Ishaq asy-Syaibaniy berkata; Aku bertanya kepada Zirra bin Hubaisy tentang firman Allah Ta’ala QS an-Najm ayat 9-10: “Fa kaana qaaba qausaini aw adnaa. Fa awhaa ilaa ‘abdihii maa awhaa” (“Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) sedekat dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).

Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan”). Dia berkata, telah bercerita kepada kami Ibnu Mas’ud bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah melihat Jibril yang memiliki enam ratus sayap”.  (riwayat Bukhari & Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang Jibril maksudnya “Aku melihatnya turun dari langit dan besarnya penciptaan Jibril menutupi ruang antara langit dan bumi.” (riwayat Tirmidzi)

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat malaikat Jibril dalam bentuk aslinya yang mempunyai enam ratus sayap, setiap sayap menutup ufuk, dari sayapnya berjatuhan berbagai warna, mutiara dan permata yang hanya Allah sajalah yang mengetahui keindahannya.” (riwayat Imam Ahmad. Ibnu Katsir berkata dalam Bidayah Wan Nihayah bahwa sanad hadits ini bagus dan kuat, sedangkan Syaikh Ahmad Syakirrahimahullah berkata dalam Al-Musnad bahwa sanad hadits ini shahih)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s