Interaksi dan Komunikasi di Tempat Kerja (Bahagian 1)

Interaksi dan Komunikasi di Tempat Kerja (Bahagian 1)

Satu cabaran besar dalam organisasi ialah mengurus persefahaman dan komunikasi di kalangan pekerja. Bahkan adakalanya ia lebih mencabar berbanding meningkatkan jualan syarikat atau meningkatkan keuntungan perniagaan.

Mengurus manusia tidak seperti mengurus mesin. Ada pekerja yang mahir dan kurang mahir. Ada pekerja yang rajin dan ada yang kurang. Ada pekerja yang berinisiatif manakala sebahagian yang lain jenis menanti arahan. Semua ini terhimpun dalam sebuah organisasi dan bekerja sebagai sebuah pasukan.

Andai tidak diurus dengan bijaksana, dibimbangi potensi dan kemampuan organisasi tidak dapat dimanfaatkan dengan maksima. Seringkali pekerja yang rajin dan berinisiatif akhirnya putus asa dan akhirnya mengikut arus bersama yang lain. Tujuan dorongan dan motivasi pekerja diadakan ialah agar prestasi pekerja yang bagus akan kekal manakala kualiti pekerja yang lain dapat ditingkatkan.

Syariat Islam yang sempurna telah mengungkapkan persoalan ini melalui beberapa ayat Al-Qur’an dan hadith Nabi.

1. Berbuat ihsan dengan rakan sekerja

Firman Allah maksudnya,

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan kurnia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan. Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka kerana riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya.” (Surah an Nisa, 36-38)

Umumnya  ahli tafsir seperti Ibn Kathir dan Al-Baghawi menafsirkan kata teman sejawat sebagau; teman ketika dalam perjalanan/ safar, teman yang soleh dan termasuk juga isteri. Dengan penjelasan itu insya Allah, rakan sekerja termasuk juga dalam perintah di atas.

Ini menunjukkan bahawa muamalat dan interaksi dengan rakan sekerja adalah suatu yang dititik-beratkan dan diberi perhatian oleh syariat Islam. Jika tidak, masakan Allah merakamkan dalam kitab-Nya yang mulia.

2. Keutamaan Menjadi Teman Yang Baik

Dari Abdullah bin Amru bin Ash, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

 خَيْرَ اْلأَصْحَابِ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ

 “Sebaik-baiknya teman menurut Allah adalah yang paling baik kepada temannya.” (Sahih Adabul Mufrad) 

Abdullah ibn Amru Al-As termasuk sahabat Nabi yang bijak, tergolong dalam kelompok Abadillah (beberapa sahabat yang bernama Abdullah) yang memahami fiqh secara mendalam dan antara yang banyak meriwayatkan hadith.

As-Sya’bi berkata, “Seseorang datang kepada Abdullah bin Amru -dan orang-orang duduk disekelilingnya- maka dia melangkah kepadanya, lalu mereka cuba menahannya. Abdullah b Amr berkata, ‘Biarkan orang ini.’ Maka diapun datang sehingga duduk bersamanya. la berkata, ‘Beritahukanlah kepada Saya tentang sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Abdullah bin Amru menjawab, ‘Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang muslim adalah orang yang menyelamatkan orang-orang muslim lainnya dari perkataannya dan tangannya, dan seorang yang hijrah adalah yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”‘” (Sahih Adabul Mufrad)

Demikian tinggi budi dan indah akhlak yang ditunjukkan oleh para sahabat Nabi kepada umat. Sehingga dengan akhlak itu berjaya menawan manusia untuk mengikuti dakwah mereka. Wasiat dan teladan Abdullah bin Amr al-Ash jangan hanya dipandang relevan dalam kehidupan beragama sahaja. Abdullah bin Amr merupakan salah seorang pewaris ladang anggur terbesar di Taif bernama Wahtu. Ibnu Asakir meriwayatkan dari Amru bin Dinar, ia mengatakan: “Amru bin Ash berjalan melalui sebidang kebun miliknya dengan satu juta kayu yang dipergunakan untuk menegakkan pohon anggur.” (Tarikh Ibn Asakir)

Keutamaan ini boleh menjadi dorongan dan rangsangan kepada pekerja yang bagus untuk kekal membantu pekerja-pekerja yang kurang cemerlang.

3. Menunjukkan Wajah Yang Manis

Sebuah senyuman yang mudah dan ringkas, namun jika dipraktiskan secara rutin dalam organisasi, ia akan memberikan perubahan yang besar. Berapa ramai yang tertawan lantaran sebuah senyuman yang dilemparkan. Berapa banyak produk yang laris dijual gara-gara iklannya menampilkan model yang murah senyuman.

Dari Abu Dzar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Janganlah engkau memandang rendah bentuk apapun dari kebaikan, walaupun engkau hanya bertemu dengan saudaramu dengan muka manis.” (Riwayat Muslim dalam Bulughul Maram) 

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya kalian tidak akan cukup memberi manusia dengan harta kalian tetapi kalian akan cukup memberikan kepada mereka dengan wajah yang berseri dan akhlak yang baik.” (Riwayat Abu Ya’la. Hadits shahih menurut Hakim. Di dalam Bulughul Maram)

Disediakan

Mohd Riduan b Khairi

PPY Borneo ‘Membangun Citra Insan’

https://ppyborneo.wordpress.com

Diizin untuk salinan dan edaran selain dari tujuan komersial. Dengan menyatakan sumber dan rujukan. Penerbitan komersial adalah dengan izin bertulis dari penulis.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s