Majikan yang Amanah & Toleransi terhadap Para Pekerjanya

Majikan yang Amanah & Toleransi terhadap Para Pekerjanya

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar Al-Khattab radiyallahuanhu berkata; Aku mendengar Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Dahulu ada tiga orang yang hidup pada zaman sebelum kalian. Suatu hari mereka berjalan sehingga sehingga tiba di sebuah gua lalu mereka berhenti menginap di situ. Tiba-tiba sebuah batu besar jatuh dari atas bukit lalu menutupi pintu gua itu mengakibatkan mereka terperangkap. Kemudian mereka berkata: Sesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan diri dari batu ini melainkan jika kalian berdoa kepada Allah dengan perantara amal soleh kalian.”

Lalu orang yang ketiga berdoa: Ya Allah, aku pernah mengambil beberapa orang pekerja. Aku telah membayar gaji mereka masing-masing kecuali satu orang; dia tidak mengambil upahnya dan pergi begitu sahaja. Kemudian aku memgembangkan gajinya itu lalu ia berkembang menjadi harta benda yang banyak. Tidak lama kemudian orang itu datang semula dan berkata: ‘Hai hamba Allah, berikan gajiku!’ Maka aku berkata: ‘Semua yang kamu lihat ini adalah hasil dari gajimu baik berupa unta, lembu, kambing dan hamba-hamba.’ Namun dia berkata: ‘Hai hamba Allah, janganlah kamu berolok-olok denganku.’ ‘Aku sama sekali tidak berolok-olok denganmu,’ tegasku. Lantas dia mengambil semua harta tadi dan membawanya tanpa meninggalkan sisa sedikitpun.

Ya Allah, jika aku memang melakukan hal tersebut kerana mengharapkan wajah-Mu, maka berikan jalan keluar untuk kami dari tempat ini.’..

(Riwayat Al-Bukhari & Muslim)

Salah satu faedah utama hadith ini ialah: Keutamaan menepati janji, menunaikan amanah, dan bersikap toleransi dalam muamalah. (Bahjatun Nazirin Syarah Riyadus Solihin, Syaikh Salin Eid al-Hilali)

Sebagaimana pemimpin menjadi cermin rakyat, demikian juga pekerja adalah cerminan kepada majikan.

Organisasi yang sukses dan produktif itu terdiri dari unit-unit kecil pekerja bergabung bersama majikan; lalu membentuk sebuah pasukan yang ‘tidak terkalahkan’.

Bukan sahaja pekerja, majikan juga memiliki peranan dan tanggungjawab terhadap pekerja mereka.

Termasuk isu atau hal yang paling asas dan kritikal dalam hubungan majikan-pekerja ialah gaji atau upah kerja. Justeru kita akan menemui sejumlah ayat-ayat Al-Quran dan hadith memerikan dan merincikan tentang gaji dan upah. Bagaimana kisah Nabi Musa Alaihisan yang bekerja dengan majikan yang amat baik hati; seorang lelaki tua di Madyan. Sudah barang tentu Nabi Musa Alaihisalam juga pekerja yang bagus. Bahkan Nabi Musa disebut dengan ciri pekerja terbaik memiliki sifat ‘quwwah’ & ‘amanah’. Majikan Musa tidak hanya mendapat upah semata bahkan akhirnya ditawarkan menjadi menantu majikannya.

Imam Al-Bukhari menghimpunkan sejumlah hadith khusus berkaitan gaji dan upah ini dalam Kitab Sahih beliau. Bahkan lebih banyak hadith dan tips dimuatkan dalam kitab beliau yang satu lagi yakni Adabul Mufrad.

Antara yang menarik termasuk bagaimana tips menjadi pekerja Allah sebagaimana disebutkan oleh Abdullah bin Amr bin Al-Asr, pewaris billionaire kebun anggur terbesar Al-Wahtu. Bayangkan kebun yang memiliki 1 juta kayu pancang, berapa pula pekerja yang diperlukan untuk menguruskan kebun itu? Abdullan b Amr b Al-Asr berkongsi beberapa tips.

Mohd Riduan b Khairi
PPY Borneo ‘Membangun Citra Insan’
Http://ppyborneo.wordpress.com/
Chonglin Apartment, Kuching

#Pengurusan #NotaPengurusan #Organisasi #Konflik #Majikan#Komunikasi #RiyadusSolihin #SyarahHadith #Hadith#PPYBorneo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s